Moms & Dads punya tiga anak atau lebih? Kalau iya, mungkin pernah mendengar anggapan bahwa anak tengah biasanya lebih mandiri, sulit ditebak, atau justru sering merasa kurang diperhatikan.
Fenomena tersebut sering disebut middle child syndrome atau sindrom anak tengah.
Istilah ini cukup populer untuk menggambarkan perasaan dan pola perilaku yang dianggap muncul karena posisi seseorang sebagai anak tengah.
Namun, apakah middle child syndrome benar-benar sebuah sindrom psikologis?
Mari simak di artikel berikut!
Middle Child Syndrome Adalah Apa?
Middle child syndrome adalah istilah populer yang menggambarkan anggapan bahwa anak tengah dapat merasa kurang diperhatikan, kurang istimewa, atau “terjepit” di antara anak pertama dan anak terakhir.
Istilah ini bukan diagnosis medis atau gangguan psikologis resmi.
Konsep tersebut sering dikaitkan dengan teori urutan kelahiran atau birth order.
Meskipun middle child syndrome bukanlah diagnosis medis atau gangguan psikiatris resmi, fenomena ini sangat nyata terjadi dalam pengasuhan anak.
Posisi “di tengah” membuat anak sering merasa kehilangan identitas atau peran spesifik di dalam rumah: mereka bukan anak pertama yang meraih berbagai pencapaian awal keluarga, dan bukan pula anak bungsu yang membutuhkan perlindungan serta perhatian ekstra dari orang tua.
Penyebab Middle Child Syndrome
Munculnya sindrom anak tengah tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh kombinasi interaksi keluarga, pola asuh, dan persepsi anak itu sendiri.
Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:
1. Merasa Kurang Mendapat Perhatian Orang Tua
Perhatian orang tua secara alami sering kali terbagi: anak sulung mendapatkan perhatian penuh sebagai anak pertama, sedangkan anak bungsu membutuhkan bantuan langsung karena usianya yang paling kecil.
Akibatnya, anak tengah sering kali merasa berada di “zona netral” dan berasumsi bahwa dirinya kurang mendapatkan perhatian atau kasih sayang yang setara.
2. Perbandingan dengan Kakak atau Adik
Tanpa disadari, orang tua atau lingkungan sekitar sering membandingkan pencapaian anak tengah dengan kakaknya (“Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?”) atau meminta anak tengah untuk selalu mengalah pada adiknya.
Perbandingan yang terus-menerus ini membuat anak tengah merasa standar yang ditetapkan untuk mereka terlalu tinggi atau tidak adil.
3. Perubahan Peran dalam Keluarga
Ketika adik baru lahir, anak tengah mengalami perubahan status yang drastis.
Dari yang sebelumnya menjadi anak bungsu yang dimanja, mereka mendadak harus menjadi “kakak”.
Transisi peran ini bisa menimbulkan rasa kehilangan tempat istimewa di dalam keluarga jika tidak didampingi dengan pemahaman yang lembut.
4. Pola Asuh yang Tidak Seimbang
Kesibukan orang tua dalam mengurus kebutuhan mendesak anak sulung (misalnya persiapan sekolah tinggi) dan anak bungsu (kebutuhan balita/bayi) dapat menyebabkan pola asuh terhadap anak tengah menjadi kurang intens.
Anak tengah sering diharapkan untuk dapat mengurus dirinya sendiri lebih cepat.
5. Karakter dan Temperamen Anak
Setiap anak lahir dengan temperamen yang berbeda.
Anak tengah yang memiliki kepribadian lebih sensitif atau pemalu akan lebih rentan merasa diabaikan jika tidak ada usaha aktif dari orang tua untuk menggali emosi dan pemikiran mereka.
Ciri-Ciri Middle Child Syndrome
Perasaan “terjepit” atau kurang diperhatikan dapat memunculkan respons perilaku yang khas.
Berikut adalah ciri-ciri middle child syndrome yang sering terlihat pada anak:
1. Merasa Kurang Diperhatikan
Anak tengah kerap mengungkapkan atau menunjukkan sinyal bahwa mereka merasa “tidak terlihat” di rumah.
Mereka mungkin merasa pendapatnya tidak didengar atau kehadirannya kurang diperhitungkan dalam diskusi keluarga.
2. Sulit Mengungkapkan Perasaan
Karena terbiasa merasa tidak menjadi prioritas utama, anak tengah sering kali memilih untuk memendam emosi, kecewa, atau pendapatnya sendiri.
Mereka khawatir jika bersuara, hal itu akan dianggap mengganggu atau menambah beban orang tua.
3. Mencari Perhatian dengan Cara Tertentu
Untuk mendapatkan pengakuan, anak tengah biasanya memilih satu dari dua jalur ekstrem:
- Menjadi Overachiever: Berusaha keras menjadi anak yang sangat berprestasi di sekolah atau bidang tertentu agar diperhatikan.
- Perilaku Rebellious: Menunjukkan sikap pembangkang atau mencari masalah (seeking attention through negative behavior) agar perhatian orang tua tertuju pada mereka.
Baca Juga: 8 Dampak Kurang Perhatian Orang Tua pada Perkembangan Anak
4. Berusaha Menjadi Penengah dalam Konflik
Sisi positif dari posisi anak tengah adalah mereka cenderung tumbuh menjadi pembuat perdamaian (peacemaker).
Mereka terbiasa berada di posisi netral sehingga terampil dalam bernegosiasi dan menyelesaikan konflik antara kakak dan adik.
5. Kurang Percaya Diri
Jika perasaan diabaikan berlangsung lama, anak tengah bisa mengalami krisis kepercayaan diri.
Mereka merasa keberadaannya kurang berharga atau merasa kemampuan mereka tidak sehebat saudara-saudaranya.
Kepercayaan diri anak tumbuh ketika ia punya ruang untuk mencoba dan mengekspresikan diri.
Begitu juga dengan bahasa Inggris, semakin dini dibiasakan, semakin natural anak menggunakannya.
Bahasa Inggris di era sekarang bukan lagi sekadar nilai pelajaran, tapi skill penting yang akan terus dibutuhkan anak hingga sekolah, kuliah, bahkan dunia kerja.
Sayangnya, banyak orang tua baru menyadari pentingnya kemampuan ini ketika anak sudah lebih besar, padahal proses belajarnya tidak lagi semudah ketika masih kecil karena kemampuan otak dalam menyerap bahasa baru semakin berkurang.
Jangan tunggu sampai terlambat! Beri si kecil kesempatan membangun skill bahasa Inggris demi masa depannya yang lebih cerah.
Sparks English hadir untuk maksimalkan potensi anak 3-15 tahun mahir bahasa Inggris sejak dini.
Lewat metode fun & interactive, anak diajak aktif speaking di setiap sesi dalam kelas semi-private yang memberi lebih banyak ruang untuk practice dan bikin anak makin berani ngomong English.
Belajarnya juga didampingi native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT, jadi anak juga terbiasa mendengar pronunciation dan accent yang lebih tepat.
Menariknya, semua ini bisa didapat mulai dari Rp70 ribuan aja!
In this economy, it’s definitely worth every penny!
Jangan tunda lagi! Buruan daftar kelas trial gratisnya sekarang dan klaim extra diskonnya sebelum habis!
Cara Mengatasi Middle Child Syndrome
Sebagai orang tua, Moms & Dads memegang peranan kunci untuk membantu anak tengah merasa sama dicintai, berharga, dan percaya diri.
Berikut langkah-langkah efektif yang bisa diterapkan:
1. Berikan Perhatian yang Adil kepada Setiap Anak
Adil tidak selalu berarti memberikan hal yang sama persis secara kuantitas, melainkan memberikan perhatian sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Pastikan anak tengah menyadari bahwa porsi kasih sayang Anda untuknya tidak pernah berkurang sedikit pun.
2. Luangkan Waktu One-on-One bersama Anak Tengah
Jadwalkan kencan singkat atau waktu berkualitas khusus berdua saja dengan anak tengah tanpa kehadiran kakak atau adiknya.
Gunakan momen ini untuk mendengarkan ceritanya, beraktivitas bersama, atau sekadar menikmati es krim favoritnya.
Perhatian eksklusif ini sangat efektif mengisi “tangki emosional” anak.
3. Hindari Membandingkan Anak
Hentikan kebiasaan membandingkan pencapaian, sifat, atau kebiasaan anak tengah dengan saudara-saudaranya.
Hargai setiap pencapaian kecil anak tengah berdasarkan usahanya sendiri, bukan berdasarkan standar yang dicapai oleh kakaknya.
4. Ciptakan Momen Kebersamaan dengan Saudara
Bangun kolaborasi antar-saudara melalui permainan tim, proyek keluarga, atau kegiatan bersama yang menyenangkan.
Dorong kakak dan adik untuk saling mendukung dan menghargai kelebihan satu sama lain agar terbentuk sibling bond yang kuat.
5. Bangun Komunikasi yang Terbuka
Biasakan untuk menanyakan perasaan anak tengah secara spesifik.
Dengarkan tanpa mendebat atau menghakimi ketika mereka mengungkapkan rasa cemburu atau kecewa.
Validasi emosi mereka dengan kalimat seperti, “Ibu paham kamu merasa sedih, terima kasih ya sudah mau cerita ke Ibu.”
6. Ajarkan Anak Mengenali dan Mengelola Emosi
Bantu anak tengah mengidentifikasi apa yang sedang mereka rasakan, baik itu marah, cemburu, sedih, atau merasa diabaikan.
Ajarkan cara menyalurkan emosi tersebut secara positif, misalnya melalui gambar, tulisan, atau berdiskusi secara terbuka.
7. Dukung Kepercayaan Diri Anak melalui Aktivitas Positif
Ajak anak mengikuti aktivitas ekstrakurikuler atau kegiatan kelompok di luar rumah di mana ia bisa mengekspresikan diri secara bebas.
Lingkungan baru yang suportif dapat membantu anak membangun identitas diri yang mandiri dan terlepas dari bayang-bayang saudaranya.
8. Kembangkan Minat dan Bakat Anak
Amati apa yang menjadi keunikan dan minat khusus anak tengah, apakah itu melukis, olahraga, sains, atau kemampuan berbahasa.
Dukung minat tersebut secara penuh agar anak merasa memiliki keunggulan dan “panggung” tersendiri yang membanggakan.
Baca Juga: 10 Cara Mengetahui Bakat Anak agar Potensinya Berkembang
Middle child syndrome memang bisa jadi tantangan, tapi dengan dukungan yang tepat, anak tetap bisa tumbuh percaya diri dan berani menunjukkan potensinya.
Salah satu bekal terbaik yang bisa diberikan sejak dini adalah kemampuan bahasa Inggris.
Bukan hanya untuk menunjang pendidikan, tapi juga menjadi skill yang membuka lebih banyak kesempatan di masa depannya.
Kursus Bahasa Inggris Sparks English menggunakan kurikulum berbasis CEFR yang membantu anak membangun skill bahasa Inggris sesuai level berstandar internasional.
Masih banyak benefit lain yang bisa anak dapatkan saat belajar di Sparks English seperti free extra sessions, student kit, hingga konsultasi professional teacher.
Sudah 25.000+ students di seluruh Indonesia belajar bersama Sparks English dan jago bahasa Inggris dalam 6 bulan!
Dengan fasilitas high quality dan biaya mulai Rp70 ribuan, yakin nggak mau coba dulu?
Ikut free trial class untuk coba metode belajarnya langsung yuk, Moms & Dads!



