Belakangan ini, istilah parenting VOC semakin sering muncul di media sosial.
Banyak orang menggunakannya untuk menggambarkan pola asuh yang keras, penuh aturan, dan minim ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat.
Lalu, sebenarnya VOC artinya apa? Mengapa istilah ini dikaitkan dengan pola asuh? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Parenting VOC?
Secara historis, VOC artinya Vereenigde Oostindische Compagnie, yaitu kongsi dagang asal Belanda pada masa kolonial yang terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang kaku, otoriter, menekan, serta menuntut keuntungan mutlak tanpa memikirkan kesejahteraan pihak yang dikuasai.
Dalam konteks parenting, parenting VOC adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pola asuh otoriter, yaitu orang tua yang cenderung:
- Menuntut anak selalu patuh.
- Mengutamakan hukuman dibanding diskusi.
- Kurang memberi kesempatan anak menyampaikan pendapat.
- Menganggap orang tua selalu benar.
Istilah didikan VOC ini memang bukan istilah resmi dalam pengasuhan.
Namun, sering disematkan masyarakat pada orang tua yang menerapkan kontrol berlebihan, minim memberikan ruang berekspresi, serta cenderung mengabaikan emosi anak.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan parenting VOC wajib menuruti semua aturan tanpa diberi kesempatan untuk berpendapat atau mandiri.
Baca Juga: Gentle Parenting Bukan Memanjakan Anak, Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua
Ciri-Ciri Orang Tua yang Menerapkan Parenting VOC
Berikut adalah ciri-ciri utama orang tua yang menerapkan didikan VOC:
1. Menggunakan Hukuman Sebagai Solusi Utama
Saat anak melakukan kesalahan, respons pertama yang muncul adalah hukuman.
Misalnya:
- membentak,
- memarahi,
- menghukum tanpa penjelasan,
- atau langsung melarang berbagai hal.
Akibatnya, anak belajar takut terhadap hukuman, bukan memahami alasan mengapa perilakunya perlu diperbaiki.
2. Sulit Memberikan Apresiasi
Beberapa orang tua merasa memberi pujian akan membuat anak cepat puas.
Padahal, apresiasi yang tepat justru membantu anak mengenali usaha dan perkembangan dirinya.
Kalimat sederhana seperti:
“Mama bangga kamu sudah mencoba.”
bisa meningkatkan motivasi anak jauh lebih baik daripada hanya menyoroti kesalahannya.
3. Terlalu Sering Membandingkan Anak
Orang tua sering membandingkan kemampuan, prestasi, atau kebiasaan anak dengan saudara, teman sebaya, atau anak tetangga.
Hal ini bertujuan memotivasi, namun justru membuat anak merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.
Contohnya:
“Lihat kakakmu.”
“Temanmu saja bisa.”
“Kenapa kamu tidak seperti mereka?”
Perbandingan terus-menerus dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Lama-kelamaan, rasa percaya dirinya bisa menurun.
4. Menuntut Kesempurnaan
Standar yang ditetapkan oleh orang tua sangat tinggi dan terkesan tidak realistis untuk usia anak.
Kesalahan dianggap sebagai kegagalan total, sehingga tidak ada toleransi bagi proses belajar anak.
5. Minim Komunikasi Dua Arah
Dalam didikan VOC, orang tua lebih banyak memberi perintah dibanding mendengarkan.
Misalnya:
- “Pokoknya harus begitu.”
- “Tidak usah banyak alasan.”
Anak akhirnya merasa pendapatnya tidak penting.
6. Kepatuhan Mutlak
Aturan dibuat secara sepihak dan harus dipatuhi secara mutlak.
Anak tidak diberikan ruang untuk bernegosiasi atau mempertanyakan alasan di balik suatu aturan yang dibuat.
Dampak Parenting VOC terhadap Anak
Pola didikan VOC yang terlalu keras membawa berbagai dampak negatif yang signifikan pada psikologis dan tumbuh kembang anak:
1. Kepercayaan Diri Menurun
Ketika pendapat anak jarang didengarkan, ia dapat merasa bahwa pemikiran dan perasaannya tidak penting.
Anak juga bisa kesulitan memercayai kemampuannya sendiri karena setiap keputusan selalu ditentukan oleh orang tua.
Dalam jangka panjang, ia mungkin terus membutuhkan persetujuan orang lain sebelum membuat pilihan.
Anak takut mengambil keputusan karena khawatir dianggap salah.
2. Anak Jadi Takut Mencoba Hal Baru
Anak yang sering dihukum atau dikritik ketika melakukan kesalahan dapat menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan.
Akibatnya, ia lebih memilih berada di zona nyaman daripada mencoba hal baru.
Misalnya, anak sebenarnya ingin berbicara bahasa Inggris, tetapi takut salah mengucapkan kata.
Karena khawatir ditertawakan atau dikoreksi secara keras, ia akhirnya memilih diam.
3. Hubungan dengan Orang Tua Menjadi Tidak Dekat
Anak mungkin tetap menghormati orang tua, tetapi belum tentu merasa aman untuk bercerita.
Jika setiap cerita berakhir dengan kritik, ceramah, atau hukuman, anak akan belajar memilih informasi yang dianggap aman untuk disampaikan.
Masalah penting pun berisiko disembunyikan karena anak takut pada reaksi orang tua.
4. Munculnya Kecemasan dan Stres
Tuntutan tinggi dan rasa takut melakukan kesalahan dapat membuat anak merasa terus berada di bawah tekanan.
Ia mungkin sering khawatir mengecewakan orang tua, mendapatkan nilai rendah, atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan.
Pada beberapa anak, tekanan tersebut dapat terlihat melalui kesulitan tidur, perubahan suasana hati, keluhan fisik, sulit berkonsentrasi, atau keengganan mengikuti aktivitas tertentu.
5. Berisiko Memberontak Saat Dewasa
Anak yang terlihat sangat patuh saat kecil belum tentu sudah memahami nilai di balik aturan.
Ketika pengawasan orang tua berkurang, ia mungkin kesulitan mengendalikan dirinya karena selama ini perilakunya hanya diarahkan oleh rasa takut.
Sebagian anak juga dapat menunjukkan perlawanan yang lebih kuat saat memasuki masa remaja atau dewasa.
Mereka ingin mendapatkan kebebasan yang sebelumnya tidak pernah dimiliki.
Selain itu, anak berisiko mengulang pola komunikasi yang sama.
Ia mungkin menganggap bentakan, ancaman, atau kontrol berlebihan sebagai hal yang wajar dalam sebuah hubungan.
Setiap keputusan yang Moms & Dads buat hari ini untuk si kecil akan berdampak jauh ke masa depannya.
Dan salah satu investasi terpenting yang sering terlewat adalah membekali anak dengan kemampuan bahasa Inggris sejak masa kanak-kanak, ketika fondasinya paling mudah dan natural terbentuk.
Banyak orang dewasa menyesal tidak serius belajar bahasa Inggris sejak kecil, karena setelah dewasa prosesnya jauh lebih berat dan hasilnya tidak pernah senatural belajar di usia kanak-kanak.
Jangan biarkan si kecil merasakan penyesalan yang sama.

Sparks English menyediakan program les bahasa Inggris untuk usia 3-15 tahun, dengan proses belajar dirancang dengan metode fun and interactive learning yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Biaya les terjangkau, mulai dari Rp70 ribu aja, sudah bisa dapat fasilitas kelas semi-private dibimbing oleh native teacher dan tutor bersertifikasi Cambridge TKT.
Metode ini berhasil membawa lebih dari 25.000 students lebih jago bahasa Inggris dalam 6 bulan!
Ayo daftar free trial class sekarang dan ambil promonya sebelum berakhir!
Mengapa Parenting VOC Masih Sering Terjadi?
Sebagian besar orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Lalu, mengapa didikan VOC masih sering diterapkan?
- Pola Asuh Warisan (Intergenerational Trauma): Banyak orang tua menerapkan pola ini karena mereka dulunya dibesarkan dengan cara yang sama oleh orang tua mereka. Tanpa disadari, gaya mendidik tersebut dianggap sebagai satu-satunya cara efektif untuk membentuk anak.
- Kesulitan Mengelola Emosi: Tingkat stres kehidupan, masalah finansial, atau beban pekerjaan membuat orang tua kesulitan mengekspresikan emosi secara sehat. Akibatnya, frustrasi terlampiaskan kepada anak lewat amarah.
- Kekhawatiran Berlebihan terhadap Masa Depan Anak: Adanya ketakutan bahwa jika anak tidak dididik secara “keras”, anak akan gagal di masa depan atau terjerumus ke hal-hal negatif.
- Kurangnya Pemahaman tentang Perkembangan Anak: Ekspektasi yang tidak realistis sering muncul karena orang tua kurang memahami tahapan emosi dan kapasitas kognitif anak sesuai usianya.
Baca Juga: 7 Ciri Overparenting, Dampak pada Anak, dan Cara Atasinya!
Bagaimana Cara Mengubah Parenting VOC?
Berikut adalah cara bertahap untuk mengubah didikan VOC menjadi pengasuhan yang lebih positif dan konstruktif (positive parenting):
1. Kelola Emosi Sebelum Merespons Anak
Saat emosi sedang tinggi, kita lebih mudah mengatakan atau melakukan sesuatu yang nantinya disesali.
Sebelum merespons kesalahan anak, berhentilah sejenak.
Tarik napas, minum air, atau ambil jarak selama beberapa menit jika situasinya aman.
Menunda respons bukan berarti mengabaikan kesalahan.
Cara ini membantu orang tua memberikan konsekuensi dengan lebih tenang dan masuk akal.
2. Bangun Kebiasaan Komunikasi yang Sehat
Sampaikan aturan dengan kalimat yang jelas dan fokus pada perilaku, bukan karakter anak.
Hindari mengatakan:
“Kamu memang pemalas.”
Cobalah menggantinya dengan:
“Mainannya belum dibereskan. Setelah selesai bermain, semua mainan perlu dikembalikan ke tempatnya.”
Kalimat kedua membantu anak mengetahui perilaku yang perlu diperbaiki tanpa membuatnya merasa bahwa dirinya adalah anak yang buruk.
Baca Juga: Apa Itu Attachment Parenting? Prinsip, Manfaat, dan Penerapannya
3. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan
Berikan pilihan yang sesuai dengan usia anak.
Untuk anak kecil, Moms & Dads dapat memberikan dua pilihan sederhana:
“Kamu mau merapikan buku atau mainan terlebih dahulu?”
Untuk anak yang lebih besar, libatkan mereka dalam menyusun jadwal belajar, menentukan kegiatan akhir pekan, atau menetapkan aturan penggunaan gadget.
Pilihan terbatas membantu anak belajar mengambil keputusan tanpa menghilangkan batasan yang ditetapkan orang tua.
4. Hindari Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Fokuslah pada proses dan perkembangan individu anak.
Alih-alih berkata, “Kenapa kamu tidak seperti temanmu?”, Moms & Dads dapat mengatakan:
“Minggu ini kamu sudah lebih konsisten belajar. Yuk, kita lanjutkan kebiasaan baik ini.”
Setiap kemajuan kecil layak diperhatikan.
Anak yang merasa usahanya dihargai akan lebih termotivasi untuk terus berkembang.
5. Dengarkan Pendapat Anak
Ketika anak bercerita, usahakan untuk tidak langsung memotong, menyalahkan, atau memberikan solusi.
Dengarkan sampai selesai, lalu ulangi inti perkataannya untuk memastikan Moms & Dads memahami situasinya.
Mendengarkan perasaan anak juga tidak berarti semua permintaannya harus dikabulkan.
Moms & Dads dapat memvalidasi emosi sambil tetap mempertahankan batas.
6. Jadilah Teladan dalam Mengelola Emosi
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari perilaku yang dilihatnya setiap hari.
Jika Moms & Dads ingin anak berbicara dengan sopan, tunjukkan cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa membentak.
Jika orang tua melakukan kesalahan, jangan ragu meminta maaf.
Permintaan maaf tidak mengurangi wibawa orang tua.
Justru, anak belajar bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya.
7. Fokus pada Perkembangan Anak
Keberhasilan anak tidak hanya diukur dari nilai, peringkat, atau jumlah penghargaan.
Apresiasi setiap usaha kecil (small wins) yang ditunjukkan anak.
Jangan hanya menuntut hasil akhir yang sempurna, hargailah kebiasaan dan proses belajar yang sedang mereka jalani.
Perkembangan yang sehat membutuhkan proses.
Anak tidak harus menjadi sempurna untuk layak mendapatkan dukungan dan apresiasi.
Baca Juga: Tiger Parenting: Kenali Ciri, Dampak dan 8 Cara Menyikapinya
Membangun pola asuh yang hangat bukan berarti membiarkan anak tanpa aturan.
Sebaliknya, orang tua tetap dapat menetapkan batasan yang jelas sambil mendukung anak berkembang sesuai potensinya.
Dan salah satu potensi yang paling sayang untuk tidak dimaksimalkan sejak dini adalah kemampuan bahasa Inggris, investasi skill yang akan terus dibutuhkan anak di setiap tahap kehidupannya.
Di kursus bahasa Inggris Sparks English, setiap kelas dirancang agar anak berani berkomunikasi, aktif berdiskusi, dan belajar bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan.
Didukung kurikulum berbasis CEFR, anak belajar bahasa Inggris sesuai dengan level standar internasional.
Tak hanya itu, masih ada bonus free extra sessions, student kit, sampai konsultasi professional teacher untuk mengetahui progress kemampuan anak.
Dan yang terpenting lagi, biaya les di Sparks English masih terjangkau mulai dari Rp70 ribu per kelas.
Yuk, jangan ditunda lagi langsung daftar free trial class dan ambil promonya sebelum waktu habis!


